Laesan Lasem Tampil di Tanah Kelahirannya, DASUN

dasun.desa.id-Seni Pertunjukan Laesan digelar setelah usai Sarasehan Budaya pada Sabtu malam 13 November 2021 di Pantai Dasun Lasem Jawa Tengah. Dahulu, di tempat yang sama pada tahun 1750 para santri bala sabil yang dipimpin oleh Kiai Ali Badawi menumpahkan darah melawan para serdadu VOC Belanda. Di tempat yang sama pula jung jung jawa diproduksi pada masa Majapahit hingga Demak yang menyebar seantero dunia.

Sempat diguyur hujan lebat, pagelaran Laesan tetap berjalan tak menyurutkan mental dan semangat para pemain. Yon Supragoya yang dituakan memberikan pengantar sebelum tembang pertama berlirik “lailahaaillalah mohammadurosulullah pangerane gawe laes,” dilantunkan. Di waktu yang sama, pemain utama laesan diikat kedua tangannya dan dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah ditutupi oleh kain mori lengkap dengan kepulan asap kemenyan. Penonton yang sebelumnya berpencar di sepanjang Pantai Dasun, mulai mendekat menyaksikan seni kuno asli Lasem ini.

Laesan Lasem adalah seni perlawanan. Setidaknya pada malam itu sebagai tengara bahwa bara semangat perlawanan masih bersemayam di setiap manusia Lasem. Seperti baju yang dikenakan oleh Raden Panji Margono saat melawan VOC, yakni baju “kimplong ireng” dan celana “gombyor” sama persis yang dikenakan oleh para pemain Laesan Lasem malam itu. Dulu rakyat Lasem melawan kompeni Belanda, sekarang melawan kebodohan dan kemiskinan.

Tiga karib Manggalayuda yakni Raden Panji Margana, Tan Ke Wi dan Ui Ing Kiat ditambah dengan Kiai Ali Badawi adalah tokoh simbol perlawanan rakyat Lasem pada abad ke-18 dulu. Mereka memberikan ingatan kolektif kepada kita semua bahwa Lasem telah dipertahankan dengan mati matian dan pertumpahan darah. Kemerdekaan tidaklah gratis. Pertunjukan Laesan malam itu memberikan isyarat bahwa generasi muda Lasem harus mewarisi dengan baik nilai-nilai keberanian, kejujuran, kesatria, toleransi, kegotong-royongan yang diambil dari akar budaya Lasem yang telah hidup selama ribuan tahun.


****
Para Pemarin Laesan pada Pentas Festival Bandeng Mrico antara lain:
Penabuh: Wisnu; Yuyud; Bagus; Zaenal; Hafis. Penembang: Muslim; Hata; Yon Suprayoga. Laesan: Ripto; Yesi. Pawang: Suraji. Penjaga Laesan: Kaelan; Sutrisno; Udin.
Panitia Festival Bandeng Mrico memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pelestari Laesan di atas yang merupakan kesenian kuno asli Lasem.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan