Dasun yang Nyaris Sirna dari Ingatan

Oleh Gunawan Budi Susanto*

Dasun. Nama desa ini saya kenal, entah kapan, dari sebuah buku — jika tak salah ingat: Arus Balik, novel karya Pramoedya Ananta Toer. Namun, seingat saya pula, nama desa ini disebut cuma sekilas lintas, sebagai desa tempat galangan kapal berada. Dengan kata lain, di Dasun pada masa lampaulah, masa akhir kejayaan Majapahit sekaligus masa awal Kerajaan Demak — sebagaimana Pramoedya gambarkan — kapal-kapal (atau perahu?) dibikin. Kapal yang kemudian mengarungi samudra raya. Dari Dasun, desa kecil di Lasem, Rembang, Jawa tengah, bertebaran kapal di keluasan lautan: melanglang dunia.

Kabar tentang Dasun yang cuma sekilas lintas itu kemudian terselip entah di bagian mana otak saya. Nyaris melenyap, nyaris sirna. Tidak menjadi sesuatu yang penting untuk terus saya ingat. Namun, ternyata, saya keliru. Nama itu kembali muncul bersamaan dengan perkenalan saya dengan seorang anak muda, yang ternyata berasal dari Dasun. Dialah Exsan, Exsan Ali Setyonugroho.

Saat itu, lagi-lagi jika tak salah ingat, tahun 2013. Persinggungan saya dengan Exsan cukup intensif. Lantaran, sejak 2014, setidaknya sekali setiap pekan, saya membuka Kelas Menulis Cerpen dan Kelas Membaca Pram di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS), perpustakaan yang didirikan anak-anak muda dan Exsan menjadi salah seorang pengelola.

Bukan cuma dalam urusan kelas menulis dan membaca, persinggungan kami. Exsan pula, kemudian, yang “memasukkan” isu penghancuran Pegunungan Kendeng Utara — oleh dan lewat pendirian pabrik semen di Rembang — ke Universitas Negeri Semarang (Unnes), almamaternya. Dia, yang menjadi aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Unnes sebagai salah seorang menteri, memutar film Samin Versus Semen serta seri diskusi mengenai eksploitasi alam dalam industri ekstratif. Dan, saya acap menjadi narasumber dalam pemutaran film dan diskusi itu.

Persinggungan kami makin intensif ketika saya dan kawan-kawan menginisiasi Koalisi Semarang untuk Kendeng, sesaat setelah Koalisi Semarang untuk Munir usai mengadakan acara peringatan 10 tahun meninggalnya Munir di Universitas Diponegoro (Undip). Lewat Koalisi Semarang untuk Kendeng itulah, Exsan terlibat aktif dalam berbagai demonstrasi, termasuk sebulan penuh (jika tak salah ingat) setiap hari bersebelas orang di depan pintu gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah membungkam mulut dengan lakban: wujud pernyataan keberpihakan kepada perjuangan kawan-kawan petani Kendeng Utara.

Tahun 2017, Exsan lulus, kembali ke kampung, terlibat aktif pendirian perpustakaan dan pengembangan desa. Saat itulah, saya mengajak warga sekampung saya di Gebyog, Patemon, Gunungpati, Kota Semarang, berpiknik ke Desa Dasun. Itulah piknik warga kampung ke desa yang sedang menggeliat: meluncurkan wisata susur kali yang sepaket dengan menangkap ikan di tambak serta kunjungan ke rumah candu dan kelenteng tertua di Lasem. Wisata itu merupakan respons saya dan kawan-kawan di kampung kami terhadap upaya Exsan dan kawan-kawan yang sangat didukung dan difasilitasi sang kepala desa, Sujarwo.

Beberapa bulan kemudian saya mendengar Exsan lolos seleksi dan menjadi sekretaris desa di desa kelahirannya itu. Sejak saat itu saya menyapa dia: Mas Carik. Dan Mas Carik kembali bikin kejutan, ketika tahun 2020, memberi saya buku Dasun: Jejak langkah dan Visi Kemajuannya. Buku itu karya dia.

Ya, itulah karya anak muda visioner, yang berpandangan jauh ke depan. Lulusan Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (FIS Unnes) ini bisa saya sebut “sejarawan visioner”. Anak muda penekun ilmu sejarah ini menyadari benar betapa penting guratan masa lalu, sebagai landasan untuk menjemba masa depan bagi desanya, Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Tidak berselang lama, akhir Desember 2021, saya kembali memperoleh kejutan: dia meminta saya menulis kata pengantar untuk buku yang otoritas Pemerintah Desa Dasun bakal terbitkan. Inilah buku Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun, yang disusun Angga Hermansyah, anak muda lain dari desa bahari itu. Dan, jika menilik perjalanan penyusunan buku ini, jelas berkait atau menjadi rentetan dari dari buku karya Exsan. Dengan kata lain, tanpa penerbitan buku Exsan, buku Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun tak bisa berada di tangan Anda sekarang ini.

“Secara garis besar, buku Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun ini    diharapkan mampu menjadi arah gerak Pemerintah Desa Dasun dan desa lainnya untuk melangkah dengan kebijakan-kebijakan yang memajukan kebudayaan desa demi terwujudnya kesejahteraan sosial. Selain itu dapat  menjadi acuan bagi masyarakat Desa Dasun dan desa lainnya untuk menilai seberapa jauh peran pemerintah dalam menjalankan program-program pemajuan kebudayaan. Bahkan mampu menjadi bahan strategi pemajuan kebudayaan yang dapat mensejahterakan masyarakat untuk calon-calon   pemimpin Desa Dasun atau desa-desa lainnya ke depan. Masyarakat dan Pemerintah Desa Dasun pada umumnya dapat menggunakan buku ini untuk   merefleksikan kegiatan-kegiatan yang telah dibuat dan merancang kegiatan- kegiatan yang akan datang demi terwujudnya berdikari bidang politik, berdikari  secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.” (halaman 25-26).

Dalam kutipan itu, ada dua perkara yang mengemuka, yang perlu saya garisbawahi. Pertama, buku ini disusun dengan tujuan: menjadi arah gerak bagi Pemerintah Desa Dasun dan desa lain memajukan kebudayaan desa untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Kedua, menjadi alat ukur bagi masyarakat desa untuk menilai kinerja pemerintahan desa.

Dalam proses penyusunan, yang tergambar lewat narasi, penulis mewawancarai narasumber secara terpilih — yang dimaksudkan sebagai representasi pandangan, pendapat, sikap, harapan, mimpi warga atau masayarakat Desa Dasun. Bagi saya, itu tidak mencukupi. Itu baru upaya merepresentasikan, tetapi belum sepenuhnya bisa dibilang representatif. Karena, jika pemajuan kebudayaan desa dilakukan, terutama untuk mewujudkan kesejahteraan sosial — apa pun maksud dan makna per definitif ungkapan “kesejahteraan sosial” — semata-mata berdasar segala pemaparan para narasumber — yang seolah-olah mewakili atau representasi dari seluruh penghuni atau penduduk Dasun, bagi saya bisa memunculkan bias atau bahkan penyimpangan dari maksud awal. Dan, oleh karena itu, penilaian apa pun juga berkemungkinan bias.

Maka, yang saya bayangkan atau lebih tepat saya harapkan — jika saya boleh dan layak berharap — buku ini lebih merupakan bahan awal. Bukan semacam garis besar haluan desa; yang pada tataran pengelolaan kehidupan negara-bangsa serupa Garis-garis Besar Haluan Negara yang dihasilkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa pemerintahan Soeharto di negeri ini. Namun lebih merupakan “kertas kerja”, yang kemudian direpresentasikan di hadapan seluruh warga Dasun — entah bagaimana dan dalam skema forum macam apa yang memungkinkan seluruh warga terlibat aktif. Jadi, segala sesuatu dalam buku ini, dengan maksud dan tujuan yang termaktub, benar-benar terwujud berdasar pengetahuan, pandangan, sikap, harapan, dan mimpi seluruh warga Dasun. Bukan cuma pengetahuan, pandangan, sikap, harapan, dan mimpi narasumber terpilih, yang bisa jadi elitis. Juga bukan pengetahuan, pandangan, sikap, harapan, dan mimpi yang secara asumtif terbangun oleh entitas ekonomis, politis, kultural, dan lain-lain — yang bisa saja maujud, misalnya, dalam pandangan dan sikap kaum akademis atau pandangan dan sikap “politis” aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Jika itulah yang kelak terwujud, sungguh, penyusunan buku ini bisa menjadi contoh acuan bagi desa-desa lain. Ibarat kata, kemandirian kehidupan dan pengelolaan kehidupan berasma di desa merupakan hasil akhir, serupa mengunduh buah setelah melalui proses panjang: memilih benih, menanam, dan merawat “pohon kebajikan”. Hasil akhir yang, insya Allah, merupakan perwujudan sepenuhnya dari harapan, hasrat, dan mimpi bersama seluruh pemangku kepentingan di desa. Dan, Dasun, yang nyaris sirna dari ingatan publik, bakal muncul kembali (bahkan) serupa suar bagi desa-desa lain di seluruh negeri ini.

Semarang, 18 Desember 2021

*) Gunawan Budi Susanto (Pengelola Kadai Kopi Kang Putu Semarang)

Sumber Tulisan : Pengantar Buku Pemajuan Kebudayaan Desa Dasun (2021) Angga Hermansah

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan