Sedekah Laut Desa Dasun: Merajut Kerukunan, Memanjat Syukur

dasun.desa.id-Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di antara dua samudra dan dua benua menjadi wilayah yang sangat strategis dan tentunya sangat kaya tradisi serta budaya. Setiap daerah tentu memiliki tradisi yang berbeda sebagai akibat dari silang budaya sejak ribuan tahun lalu melalui jalur pelayaran.

Desa Dasun misalnya, sebagai sebuah desa yang wilayahnya berada di pesisir pantai membentang dari timur ke barat sejauh 3,5 kilometer, memiliki gelaran tradisi tahunan setiap Agustusan yang disebut dengan larung sesaji atau sedekah laut, ada pula menyebutnya dengan tradisi lomban yang kali ini dilaksanakan pada 19 Agustus 2021

Mengapa disebut lomban? Puji Mulyono salah satu tokoh agama Desa Dasun menyatakan bahwa dinamakan lomban karena ketika perahu nelayan berangkat menuju tempat ritual layaknya lumba-lumba ia berjalan memutari sebuah pulau yang disebut Pulau Gosong. Hal senada juga disampaikan oleh Sutikno salah satu nelayan Dasun yang saat ini ditunjuk sebagai juru masak sesaji lomban, bahwa masyarakat Dasun lebih akrab menyebut tradisi sedekah laut dengan sebutan lomban.

Tradisi Sedekah Laut telah berlangsung lama, turun-temurun hingga kini dan dianggap sakral bagi nelayan Dasun. Terkait tradisi sedekah laut, menurut budayawan M. Jadul Maula, tradisi sedekah laut merupakan sebuah praktik kosmologi, yakni hubungan antara manusia dan alam (hablun minal alam) yang keduanya menjalin hubungan secara harmonis.

Tradisi Sedekah Laut ini merupakan bagian dari perwujudan rasa syukur nelayan Dasun terhadap kelimpahan rizki yang diberikan oleh Allah. Tak heran, dalam prosesi ritualnya diiringi dengan lantunan do’a dan harapan, meminta keselamatan kepada Sang Kuasa agar dijauhkan dari bala dan diperbanyak rizki.

Rangkaian kegiatan tersebut biasa dilakukan di salah satu pulau kecil, yang masyarakat setempat bisa menyebutnya dengan sebutan pulau Gosong, berjarak sekitar 3 Km dari Muara Sungai Dasun. Pulau ini merupakan pulau karang yang lebarnya ditentukan dengan pasang surutnya air laut. Kebetulan pada saat Sedekah Laut kali ini air sedikit surut sehingga Pulau Gosong terlihat besar.

Untuk bisa sampai ke Pulau Gosong saat Sedekah Laut, masyarakat nelayan Dasun menggunakan perahu yang sebelumnya telah dihias sedemikian apik dengan ragam warna dan umbul-umbul yang berbeda serta ragam jajanan pasar yang siap santap. Pada tahun ini terhitung ada 32 kapal yang melaksanakan ritual Sedekah Laut. Dengan rincian 12 perahu dari Tasiksono dan 20 perahu dari Dasun.

Dalam tradisi Sedekah Laut ada nilai-nilai luhur yang bisa dipetik, yaitu sebuah sikap rasa syukur kepada sang pencipta atas apa yang telah diberikan kita, disamping itu juga kegiatan tersebut mampu menjadi perajut kerukunan antar sesama masyarakat Dasun dan sekitarnya.

Penulis: Tim KKN PAR STAI Al-Anwar Unit 14

Sesaji yang telah tiba di Pulau Gosong, terlihat dipenuhi dengan jajanan pasar, buah-buahan yang kemudian akan dikeroyok oleh peserta Sedekah Laut (Foto : KKN STAI Al Anwar Unit 14, 2021)
Terdapat pula prosesi bancaan dalam Sedekah Laut pada saat di Pulau Gosong (Foto : KKN STAI Al Anwar Unit 14, 2021)
Mbah Carito sedang memimpin do’a bersama dalam puncak rangkaian sedekah laut di Pulau Gosong (Foto : KKN STAI Al Anwar Unit 14, 2021)
Anak Dasun terlihat antusias dalam mengikuti prosesi do’a bersama di Pulau Gosong (Foto : KKN STAI Al Anwar Unit 14, 2021)
Foto bersama (Foto : KKN STAI Al Anwar Unit 14, 2021)

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan