Tikungan Data Desa dan Jalan Damai Menuju Desa Bahagia

Oleh: Suhadi*)

Sengaja Penulis pilih diksi tikungan data desa, bukan perang data desa. Alasannya jelas. Kalau menggunakan diksi perang data desa, berarti setiap orang di desa telah siap dengan alutsista data. Padahal sebaliknya. Hanya beberapa gelintir saja yang siap dengan data desa. Itupun masih dalam titik singgung dan muara kuasa politik desa.

Pada umumnya pemerintahan desa lemah data. Sebabnya sungguh kompleks. Mulai dari rendahnya SDM, tradisi penggelapan data pascapurna tugas, kekosongan roadmap pembangunan desa, buruknya inventarisasi, ketidakpastian perangkat sistem data, Kepala Desa tidak mumpuni, hingga insiden kebencanaan yang sifatnya disengaja dan faktor alam.

Bagaimanapun keadaan data desa, siap atau tidak siap, saat ini pemerintah desa dituntut kuat data. Dalam hal mengukur indek pembangunan misalnya, data desa telah dijadikan ujung tombak dan parameter apakah suatu daerah masuk dalam kategori desa mandiri, berkembang, atau bahkan tertinggal. Begitu halnya dalam hal indeks pencapaian pembangunan kebudayaan, data desa juga sangat berkontribusi dalam mempengaruhi apakah sebuah daerah tersebut memiliki nilai tinggi, sedang, dan atau rendah dalam hal pelestarian dan penggunaan budaya untuk membangun desa.

Tikungan Data Desa

Seiring dengan kondisi lemahnya data, dimungkinkan akan terjadi kecenderungan buruk dalam menyiapkan data desa. Beberapa kecenderungan tersebut adalah terjadinya monopoli data, melakukan tindakan order data secara serampangan, data hoax, dan perilaku jual data. Dan jika ini terjadi, apalagi perilaku menyimpang ini seolah-olah dipandang hal yang wajar, maka ini adalah preseden buruk untuk masa depan desa.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan dalam menyiapkan data desa. Tetapi tidak kemudian menyerah begitu saja. Secara birokrasi, desa adalah struktur yang cukup kuat untuk melakukan rencana pendataan desa, inventarisasi, mengolah dan mempublikasikan. Begitupun dalam hal kebijakan, pemerintah desa juga memiliki instrumen lengkap dalam menganggarkan kegiatan pendokumentasian data. Dengan dua faktor pendukung tersebut, di atas kertas, pemerintah desa sangatlah mampu.

Hanya saja mental dan tradisi struktur desa tampak belum siap. Selain disebabkan padatnya layanan umum dalam bentuk administrasi dan kependudukan, serta kesibukan dalam kegiatan seremonial desa, seringkali struktur pemerintahan desa terhenti. Maka untuk itu perlu adanya kreativitas dalam menggarap data desa.

Memilih Jalan Damai

Kegiatan pelatihan dengan metode partisipatif dapat menjadi jalan tengah dalam membangun data desa. Ragam pelatihan yang cukup relevan adalah kegiatan pelatihan yang bertemakan fotografi, videografi, hingga jurnalistik.
Strategi pelatihan dapat dilakukan dengan keterlibatan masyarakat desa setempat. Anak muda desa setempat adalah pilihan tepat kerena telah adaptif dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Tentu saja teknis pelatihan tidak serta merta selesai kegiatan selesai semua tanpa tindak lanjut yang nyata.

Pelatihan tematik data desa dapat dirancang sedemikian rupa dengan menitik beratkan pada objek kajian dan media publikasi pelatihan. Bagi penyelenggara pelatihan, objek kajian pelatihan dapat difokuskan pada instrumen data kebudayaan desa dan data pembangunan desa. Selanjutnya, produk pelatihan dapat segera dipublikasikan melalui website desa dan medsos. Disaat inilah akan terjadi diskursus, krocek, dan konfirmasi data dalam menumbuhkan literasi yang sehat di medsos.

Tentu tidak hanya berhenti disitu saja. Rencana tindak lanjut pascapelatihan perlu rancang dengan matang. Beberapa kegiatan tindak lanjut dapat menjadi pilihan diantaranya; penerbitan data desa, visual displai data desa, expo data desa, hingga layanan pusat studi data desa untuk publik. Pelatihan dan rencana tidak lanjut ini dapat dilakukan dalam rangka memilih jalan damai dalam memiliki data desa yang mendekati lengkap.

Ragam Instrumen Data Desa

Objek apa dan mana saja yang dapat digunakan praktik fotografi? Peristiwa dan kegiatan apa yang dapat pakai praktik videografi? Dan berita desa apa yang dijadikan produk jurnalistik? Ada dua instrumen yang dapat digunakan dalam pengumpulan data desa. Pertama, instrumen kebudayaan desa. Kedua, instrumen pembangunan desa. Atau lebih luas lagi. Instrumen dapat dikembangkan melalui kegiatan survey online dengan tematik keseharian masyarakat desa.

Instrumen kebudayaan desa yang dapat dijadikan objek dalam praktik pelatihan fotografi, videografi, dan jurnalistik diantaranya; manuskrip, ekonomi budaya, pendidikan, ketahanan sosial budaya, warisan budaya, ekspresi budaya, budaya literasi, kesetaraan gender, seni rakyat, serta permainan rakyat dan olahraga tradisional.

Selanjutnya objek untuk instrumen pembangunan desa diantaranya; tempat ibadah, puskesmas dan jasa medis lokal, sekolahan, home industri, kuliner dan aneka jajanan khas, perpustakaan, museum, komunitas, toko kelontong, minimarket, pasar, rumah makan, warung/ kedai, penginapan, jasa keuangan, sumber air minum, sumber air mandi/ cuci, sarana buang air besar, jaringan internet, telepon seluler, pengiriman pos/ barang, bengkel, tukang, pande besi, jaringan listrik, penerangan jalan, bahan bakar, akses jalan, kualitas jalan, rambu lalu lintas, angkutan umum, penanda jarak, foto copy dan percetakan, sarana evakuasi dan titik kumpul kebencanaan hingga pemulihan, lapangan olahraga, kelompok olahraga, struktur desa, aset dan kekayaan desa, dan lain-lain.

Menuju Desa Bahagia

Pelatihan semacam jurnalistik, fotografi, dan sinematografi hanyalah pintu awal menuju kemandirian data desa. Melalui instrumen data budaya desa dan data pembangunan desa, setidaknya sebagai langkah praktik baik dalam produksi data primer desa.

Jika ini terwujud, mimpi besar bahwa warga desa adalah pembuat data, warga desa adalah pemilik data, dan warga desalah yang memanfaatkan data, jelas akan terwujud. Kebudayaan desa dapat lestari dan pembangunan desa dapat terprogram dengan normal. Selamat tinggal tikungan data desa. Damailah desa. Bahagialah masyarakat desa.

*)Penulis adalah Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Pamotan, sekaligus sebagai fasilitator Pelatihan Fotografi di Desa Dasun Kecamatan Lasem 

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan