Panen Garam Dasun, Harga Garam Anjlok, Petani Tak Semangat

Dasun.desa.id-Di bawah lereng Gunung Lasem, Desa Dasun, Kabupaten Rembang, sore itu para petani garam larut dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang memikul garam, menggaruk, menyiram iar, serta mengalirkan air tua ke petak petak lahan garam.

Satu di antaranya sibuk menyiduk air dari sebuah lahan dan memindahkannya ke lahan yang lain. Dua lainnya memasang terpal di tanah petak selebar lebih dari 5 meter. Di sekitar petani-petani itu tampak bertumpuk-tumpuk garam kering siap panen.

Inilah pemandangan Desa Dasun saban hari saat musim kemarau. Para warga bekerja serius menambak garam. Petani-petani itu hanya sebagian kecilnya. Desa Dasun memang dikenal sebagai produsen garam terbesar di pesisir pantai utara alias pantura. Lahan garam banyak terdapat di Desa Dasun, Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Wisatawan yang pergi ke Lasem biasanya akan mampir ke Dasun. Di sana mereka disuguhi sajian yang komplet dari sisi visual maupun sosial. Ada hamparan lahan tambak garam luas, menyapu mata. Tak perlu terkejut. Pemandangan ini memang hampir dapat ditemui di semua lokasi di pesisir Lasem.

Lanskapnya indah beserta objek yang lengkap: alam, manusia dan aktivitasnya. Apabila beruntung, bisa bertemu dengan burung kuntul.

Film Garam Desa Dasun Lasem Rembang

Tiap-tiap petak akan menghasilkan kira-kira 350 kilogram garam. Sedangkan bila dijual ke pengepul, pada kmarau tahun 2019 ini harganya hanya Rp. 400,-  per kilogram itupun kalau kwalitas baik, jika kwalitas garam kurang baik bahkan hanya dihargai Rp.260,- per kilogram. Garam yang baik, adalah yang memiliki kristal berukuran besar. Warnanya pun lebih putih dan bersih, tidak tercampur lumpur dan kotoran lainnya.

Keseruan memanen garam ini menurut mereka hanya bisa dirasakan saat musim kemarau. Juli-Agustus-September adalah waktu terbaik menambak garam. Sedangkan saat hujan, warga Dasun akan beralih menggarap sawah, sebagian lagi menekuni nelayan serta petani tambak bandeng.

Inilah tradisi warga Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang setiap tahunnya. Mereka adalah para petani garam yang selalu menerima keadaan dengan lapang dada. Meskipun jika dibandingkan dengan tenaga, kesabaran dan kerja kerasnya selama ini menggarap tambak hingga menghasilkan garam. Harga Rp.400,- sampai Rp.260,- per kilogram tidak sebanding lurus.

Banyak petani garam di Dasun pada musim kemarau ini tidak terlalu semangat menggarap dikarenakan harganya yang sangat kacau. Mereka bahkan sering bergumam “Negoro kok lucu, produksi garam melimpah, tapi kok masih impor garam dari luar negeri, ya hasilnya seperti ini, harga garam yang dihasilkan petani Indonesia malah dihargai murah,” gumam beberapa petani garam yang ditemui penulis.

Menurut mereka para petani garam, akibat dari impor garamlah, harga garam menjadi turun dan bahkan anjlok. Memprihatinkan. [exsan]

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan