Pariwisata Berbasis Komunitas Minimal Berstandar Asia

BREBES – Asisten Deputi Bidang Pengembangan Seni dan Budaya kementerian Pariwisata Oneng Setya Harini mengatakan, pariwisata inklusif berbasis komunitas minimal harus berstandar pada based tourism Asia. Dengan demikian bila kita harus bersaing, setidaknya kita tidak berada di bawah. Hal itu dikatakan Oneng Setya Harini ketika membuka acara Apresiasi dan Konvensi Pokdarwis tingkat Jateng di OW Waduk Malahayu, Brebes Sabtu 21 Juli 2018. Acara yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti tak kurang 200 delegasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Jawa Tengah.

Dikatakannya, Jawa Tengah terus meningkatkan dan mengembangkan pariwisata, termasuk di antaranya melalui apresiasi dan konvensi Pokdarwis ini. Pemerintah memberikan apresiasi berupa penghargaan dalam bentuk uang pembinaan maupun kesempatan melakukan studi banding ke daerah lain bagi anggota Pokdarwis.

Oneng menyatakan, Baru-baru ini, majalah traveling Travel + Leisure mengumumkan daftar pulau terbaik di dunia tahun 2018. Daftar tersebut dibuat berdasarkan survei yang dilakukan kepada pembacanya mengenai pengalaman mereka selama berwisata di suatu pulau, yaitu dari segi aktivitas yang dapat dilakukan, wisata alam dan pantai, makanan dan juga keramahan penduduk lokal.

Gelar Produk Pokdarwis Pesona Bahari Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang dengan menampilkan proses membatik tulis Lasem dalam acara Apreasiasi dan Konvensi Pokdarwis tingkat Jateng di Malahayu, Brebes 20-22 Juli 2018

Dari 15 pulau terbaik di dunia, tiga pulau teratas dimiliki oleh Indonesia. Posisi ketiga ditempati oleh Pulau Lombok, kemudian ada Pulau Bali, dan peringkat teratas pulau terbaik di dunia jatuh kepada Pulau Jawa. Dengan diumumkannya sebagai pulau terbaik di dunia ini, menjadi tantangan sekaligus peluang juga bagi Jawa Tengah untuk semakin mengembangkan pariwisatanya. Orang pasti akan semakin tertarik untuk berkunjung ke Pulau Jawa.

“Maka diperlukan pengelolaan yang lebih baik, alan dan budaya yang dilestarikan untuk semakin menciptakan kesejahteraan rakyat. Dan, Pokdarwis sangat berperan dalam hal ini,” katanya.

550 Pokdarwis

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Parekraf, Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Porapar) Provinsi Jawa Tengah, Trenggono mengatakan, pariwisata merupakan salah satu sektor yang ketika dikelola bisa memberikan kontribusi baik bagi warga sekitar destinasi wisata maupun bagi pemerintah daerah. Hal itu tentunya membutuhkan berbagai pihak untuk bisa fokus terhadap pengembangannya. Termasuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang langsung bersentuhan dengan objek wisata.

“Berdasarkan data yang kami himpun, ada 550 Pokdarwis yang saat ini sedang kami petakan, untuk mengidentifikasi, memvalidasi dan menstandardisasikan kelembagaannya,” jelas Trenggono.

Penyerahan penghargaan Juara 1 Gelar Produk Pokdarwis oleh Bapak Trenggono dari Dinas Pariwisata Provinsi Jateng kepada Ibu Suparmi wakil dari Desa Dasun di Waduk Malahayu, Brebes (22/07/2018)

Pendataan Pokdarwis itu dijelaskan oleh Trenggono sebagai langkah dalam menganalisa serta menyusun kebijakan untuk dijadikan dasar pengembangan sektor pariwisata di Jateng. Trenggono mengungkapkan, acara kumpulnya Pokdarwis se-Jateng ini bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi antarmereka. “Jadi antar-Pokdarwis bisa saling berbagi cara dan strategi dalam mengembangkan dan memajukan tempat wisatanya,” tutur Trenggono.

Wakil Bupati Brebes Narjo usai yang hadir dan membuka acara tersebut mengatakan, meningkatnya kesadaran masyarakat akan potensi wisata di daerahnya, dapat mengembangkan destinasi wisata dan dapat menyejahterakan warga sekitar.

“Tempat pariwisata yang cantik dan indah harus dikelola dengan profesional sehingga bisa menjadi daya tarik pengunjung. Unsur pariwisata juga harus dipenuhi, di antaranya keamanan, kebersihan, ketertiban, kenyamanan, keindahan dan keramah tamahan warga sekitar,” jelas Narjo

Dalam acara ini dilangsungkan pula paparan peserta mengenai sapta Pesona dan Pokdarwis dan pemecahan masalah dalam studi kasus, serta gelar produk yang diikuti 32 kabupaten-kota se-Jateng. Kepada para peserta yang menang dalam apresiasi dan konvensi ini mendapatkan oenghargaan berupa uang pembinaan, piagam, trofi, serta kesempatan mengikuti studi banding ke luar daerah.

(wawasan.co/  WIDIYARTONO R/NN)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan