Dasun Heritage Society dan Kisah Keberhasilan Pemuda Membangun Desa

Warga Dasun sedang berfoto bersama selepas penyelenggaraan Malam Pusaka Dasun. Acara ini diinisiasi oleh Dasun Heritage Society yang didukung penuh oleh pemerintah Desa Dasun.

Penulis: Exsan Ali Setyonugroho

Dasun.desa.id-Puluhan pedagang mendorong gerobak menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH). Mereka lalu menata dagangan di areal Pujasera[1] yang mengelilingi wilayah RTH tersebut. Hanya butuh beberapa menit bagi para pedagang menampilkan aneka jajanan, mulai dari lontong tahu, gorengan, aneka sosis, jus buah, sate keong, sate usus, bandeng presto, bandeng otak-otak, kopi, es buah, siomay, empek-empek, nasi kucing, jajanan pasar, gethuk, uler-uler, sampai rujak untuk menyambut para pengunjung RTH yang melepas lelah atau menemani anak-anak bermain rumah balon, pemancingan mini, komidi putar, odong-odong, dan mobil-mobilan. Dalam setahun terakhir, setiap sore, para pedagang yang seluruhnya merupakan warga Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang itu menjalani aktivitas berjualan di Pujasera RTH sebagai mata pencaharian utama.

Keramaian di RTH Dasun dengan berbagai pertunjukan seni dan kebudayaan yang terselenggara (Dok: Dasun.desa.id)

 

Meski memiliki lanskap mempesona, di mana kita bisa melihat perpaduan lanskap Pegunungan Lasem, persawahan sekaligus tambak garam, jika kita menengok dua tahun ke belakang, RTH Dasun sama sekali bukan tempat wisata bagi warga sekitar Lasem. Sebagaimana desa lain di Rembang, pada waktu itu Desa Dasun adalah desa yang sepi. Banyak sekali penduduknya yang bekerja sebagai pekerja informal di kota-kota yang memiliki geliat perekonomian lebih tinggi ketimbang Rembang, seperti Gresik dan Surabaya. Namun semua itu perlahan berubah setelah kerja keras para pemuda desa melalui komunitas bernama Dasun Heritage Society. RTH Dasun adalah salah satu dari sekian banyak cerita sukses mereka dalam membangun desanya.

Dasun Heritage Society dan Kiprah Para Pemuda Desa

Kisah keberhasilan Dasun Heritage Society (DHS) dimulai ketika sekelompok pemuda Desa Dasun mendirikan komunitas tersebut pada awal 2016. Ide awal pendirian komunitas ini adalah untuk melestarikan lingkungan hidup dan peninggalan budaya Desa Dasun melalui peningkatan taraf ekonomi warga. Ide ini bermuasal dari kegelisahan para pemuda tersebut akan kondisi desanya.

Dasun ketika itu memang menyimpang ironi. Desa ini memiliki angka migrasi yang tinggi lantaran tidak tersedianya akses dan peluang pekerjaan bagi penduduknya. Padahal desa ini diberkahi oleh alam yang indah dan banyak situs sejarah. Desa ini memiliki hutan mangrove yang terawat di sepanjang Sungai Dasun, pantai yang menyajikan sunset indah, dan situs kemaritiman yang terentang dari Era Majapahit sampai Pendudukan Jepang.

Selanjutnya, tentang perkembangan produksi serta perbaikan kapal di galangan kapal Desa dasun ini dari tahun ke tahun cukup bervariasi. Pada tahun 1832 galangan kapal ini membuat semua jenis perahu untuk pesanan orang-orang Eropa dan perahu angkut barang. (dok :http://media-kitlv.nl)

 

Sadar akan potensi desanya yang melimpah itu, melalui DHS, para pemuda Dasun mulai bekerja bersama menata desanya. Di awal kegiatannya, komunitas ini dengan tekun melakukan kerja-kerja pendokumentasian desa. Mulai dari pendokumentasian budaya, sejarah, sampai potensi pariwisata melalui kegiatan fotografi, pembuatan video, sampai kerja-kerja penelusuran literatur untuk mencari data kesejarahan yang terkait dengan keberadaan situs-situs sejarah di desanya.

Hasil dari kerja-kerja panjang dan melelahkan itu kemudian dipakai oleh DHS dalam mendesain rancangan pengembangan ekonomi desa mereka. Pariwisata alam, budaya, dan sejarah kemudian menjadi pilihan para pemuda tersebut setelah menimbang seluruh potensi kekayaan yang dimiliki desa. Pilihan tersebut juga sekaligus dianggap bisa memenuhi dua tujuan dibentuknya DHS, yakni untuk melestarikan lingkungan hidup dan peninggalan sejarah, sekaligus meningkatkan ekonomi warga.

Untuk mendukung realisasi ide tersebut, DHS secara gencar melakukan upaya penyadaran masyarakat Desa Dasun akan kekayaan alam dan peninggalan sejarahnya agar bisa terlibat penuh, menjadi aktor utama dalam rencana pengembangan Desa Dasun sebagai Desa Wisata. Mereka juga melakukan promosi secara gencar kepada masyarakat luas melalui sosial media, blog, website dan youtube. Ide pembuatan areal Pujasera di lokasi RTH untuk menyokong aktivitas wisata di Desa Dasun lahir dari proses ini.

BUMDes dan Perpustakaan sebagai Lokus Ekonomi dan Pengetahuan

Apa yang sebenarnya perlu dicatat dari keberhasilan DHS sejauh ini dalam mempelopori pengembangan ekonomi Desa Dasun adalah proses bagaimana para pemuda anggotanya mampu merebut kepercayaan dari para tetua dan elit desa. Pada pertengahan 2016, beberapa bulan setelah dibentuknya DHS, usulan untuk membentu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) muncul. Keberadaan BUMDes dianggap mutlak perlu sebagai wadah untuk mengelola perekonomian desa yang mau dikembangkan secara professional. Usulan pendirian ini kemudian ditanggapi oleh pemerintah desa setempat dengan mengajak para pemuda yang tergabung dalam DHS untuk mengelolanya.

Gedung Serba GUna Dasun dan Rumah Makan Apung Dasun yang berada di Kawasan RTH Dasun menjadi unit usaha BUMDesa “Karya Bahari” Desa Dasun, Lasem (Dok: Dasun.desa.id)

Bentuk kelembagaan BUMDes yang bukan koperasi memang sempat membikin para pemuda ini dalam posisi dilematis. Karena bukan koperasi, maka segala keputusan yang diambil di dalam BUMDes tidak mensyaratkan kolektifitas, padahal pembentukan DHS sendiri tak jauh dari asas kolektif, pun demikian dengan platform pengembangan ekonomi yang telah disusun. Namun kemudian para pemuda ini bisa meyakinkan para tetua desa bahwa masa depan pengembangan ekonomi desa akan jauh lebih terakselerasi apabila pengelolaan BUMDes dipasrahkan sepenuhnya kepada mereka; dikelola secara kolektif oleh mereka. Sejak saat itu BUMDes benar-benar menjadi lokus ekonomi bagi pengembangan perekonomian Desa Dasun. BUMDes dengan cepat kemudian memiliki diversifikasi usaha yang beragam, mulai dari pengelolaan pariwisata pantai, sejarah, maritim dan budaya, penyewaan gedung  serbaguna, sampai pajak desa yang ditarik dari para pedagang yang berjualan di wilayah RTH.

Kerja para pemuda DHS melalui BUMDes ini, dalam banyak hal, terbukti berhasil meningkatkan kesejahteraan warga. Sejak dibukanya Desa Dasun menjadi desa wisata, banyak warga kemudian menjadikan aktivitas ekonomi yang ikut menopang program wisata Dasun sebagai mata pencaharian utama. Beberapa penjual di kawasan RTH, misalnya, mengaku rata-rata bisa memperoleh omset 300 ribu sehari. Ini jumlah yang jauh melampaui UMK Kabupaten Rembang.

Salah satu kegiatan di Perpustakaan Desa Dasun, yakni pelatihan menari bagi anak-anak SD untuk mengembangkan bakat serta melestarikan budaya leluhur (Dok: Dasun.desa.id)

Selain BUMDes, institusi yang penting dicatat dalam pengembangan wisata Dasun adalah perpustakaan desa. Perpustakaan adalah lokus pengetahuan Desa Dasun. Di tempat inilah gagasan soal konsep pariwisata alam dan kebudayaan yang dikelola secara kolektif disemai. Para pegiat berhasil memaksimalkan seluruh akses pengetahuan (buku, internet, dan komputer) untuk memproduksi seluruh konten yang diperlukan untuk melakukan pendidikan pada warga, kampanye, dlsb. Mereka juga melakukan banyak sekali kegiatan yang dirasa penting untuk menopang realiasi gagasan desa wisata mereka. Melibatkan pengelola Perpustakaan Desa, mereka menyelenggarakan pelatihan bagi anak-anak, perempuan dan pemuda untuk mengembangkan potensi Desa Dasun sehingga mampu meningkatkan kualitas ekonomi, pendidikan dan kesehatan, maupun melestarikan kebudayaan bahari. Mereka menyelenggarakan pelatihan komputer dasar bagi anak-anak; pelatihan kepariwisataan bagi para pemuda dan pemudi; pelatihan kewirausahaan; pelatihan menari bagi anak-anak; pelatihan membuat kue bagi perempuan; pelatihan mengolah bandeng menjadi bandeng presto dan otak-otak; serta bakti sosial pengobatan gratis bagi warga masyarakat Dasun dan sekitarnya. Rangkaian kegiatan tersebut secara tidak langsung turut andil dalam menorehkan kisah manis sebagaimana hari ini bisa disaksikan.

Penutup

Apa yang telah dilakukan oleh DHS dalam mempelopori pengembangan ekonomi Desa Dasun adalah salah satu bukti bahwa desa dengan segala potensinya memiliki kemampuan untuk berdaya, untuk berdikari. Kerja-kerja DHS sekaligus menjadi catatan bahwa pembangunan ekonomi desa tidak bisa tidak mesti diletakkan dalam kerangka komunal. Kepemilikan atas alat produksi, apapun itu sektornya, di desa mesti menjadi milik kolektif. Dan proses ini memakan waktu yang tidak sebentar. Ada proses penyadaran masyarakat yang begitu panjang dan oerlu dilalui dengan sabar.

Dalam konteks Desa Dasun, barangkali hambatan itu sudah dilalui, meskipun bukan tanpa problem. Bentuk kelembagaan ekonomi yang menaungi usaha kolektif warga, BUMDes, misalnya, tentu saja tidak ideal untuk menampung kerja-kerja kolektif warga desa. Bagaimanapun pada dasarna BUMDes adalah bentuk kelembagaan ekonomi yang kapitalistik. Ini bukan tidak disadari oleh para pegiat DHS. Tetapi usaha untuk mewujudkan kondisi paling ideal untuk kesejahteraan seluruh warga Dasun memang masih panjang. Dan itu tentu saja memerlukan nafas yang tidak pendek dan kesabaran yang mungkin tanpa dasar.

Catatan akhir:

[1] Pusat Jajanan Selera Rakyat, sebuah akronim untuk sebuah tempat khusus untuk para pedagang makanan kaki lima.

Penulis adalah salah satu pendiri Dasun Heritage Society

***

tulisan ini pernah diterbitkan di http://www.desantara.or.id/2017/12/dasun-heritage-society-dan-kisah-keberhasilan-pemuda-membangun-desanya/

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan