Sejarah Galangan Kapal Dasun

Diperkirakan bahwa tradisi membuat kapal itu sudah berlangsung sebelum abad XVI. Misalnya, ketika Demak melakukan ekspedisi militer ke Malaka untuk mengusir Portugis, sebagian kapal yang digunakan dibuat dan dikirim dari Rembang.

Dasun.desa.id-Sejak jaman kerajaan Majapahit Lasem telah menjadi salah satu pusat pembuatan kapal. Prestasi ini terus berlangsung pada masa kerajaan Islam Demak yang memiliki armada yang kuat. Dua kali armada Demak menyerang posisi Portugis di Malaka dengan kekuatan sekitar 100 buah kapal lebih. Meskipun mengalami kegagalan, namun serangan itu menunjukkan bahwa kerajaan Demak pernah memiliki armada laut yang cukup tangguh di Asia Tenggara. Dalam hal ini sebagian kapal-kapal itu dibuat Lasem

Pada masa Mataram, kapal yang dibuat di galangan ini digunakan untuk kepentingan perdagangan baik oleh pihak VOC atau para bupati, maupun pihak swasta. Galangan kapal Rembang ini berlokasi di muara Sungai Lasem atau tepatnya di Desa Dasun.

Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan tradisi pembuatan kapal di Rembang mulai berlangsung. Akan tetapi diperkirakan bahwa tradisi membuat kapal itu sudah berlangsung sebelum abad XVI. Misalnya, ketika Demak melakukan ekspedisi militer ke Malaka untuk mengusir Portugis, sebagian kapal yang digunakan dibuat dan dikirim dari Rembang. Tradisi kemaritiman dalam hal teknologi dan industri kapal terus mengalami perubahan. Pengaruh terbesar atas perkapalan Samudera Hindia adalah tibanya kapal-kapal Atlantik sejak akhir abad XVI. Desain tiang perlahan-lahan diubah sampai bentuk kapal tradisional yang lebih kuat dihasilkan. Di berbagai galangan pembuatan kapal Asia, kapal lokal dapat meniru model kapal Atlantik. Menurut Bernard H.M. Vlekke, perkembangan kapal di Indonesia pada akhir abad XV, juga dipengaruhi oleh bentuk-bentuk kapal dari negara-negara Asia lain, seperti Pegu dan Birma. Hal ini terjadi karena adanya hubungan perdagangan laut antara negara-negara di Asia yang sudah berlangsung lama.

Pada masa Mataram Kartasura, VOC berhasil mendirikan kantor di Demak dan Rembang yang dianggap mutlak perlu karena kaya akan kayu, sehingga di kedua tempat itu didirikan sebuah galangan kapal. Sejak kapan pendirian galangan kapal oleh VOC di Rembang juga tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi diperkirakan terjadi antara tahun 1651 sampai 1677. Tahun 1651 merupakan tahun diadakannya perdamaian antara VOC dengan Amangkurat I, sehingga VOC diberi ijin untuk membuka kantor di Jepara dan tidak menutup kemungkinan VOC telah merintis dan membuka kantor di Rembang. Salah satu alasan utama bagi Kompeni untuk membuka loji di Jepara adalah adanya kesempatan baik untuk membuat kapal-kapal kici (jacht) yang sangat diperlukan. Oleh karena itu, instruksi residen pertama Dick Schouten melihat kesempatan yang baik dan harganya pun murah,sehingga dipesan sedikitnya tiga kapal kici berukuran 70 sampai 60 last, dan kapal-kapal itu selesai dibuat pada bulan November 1651. Sementara pada tahun 1677, diceritakan tentang kejadian orang-orang Makasar yang sampai di kota Rembang yang dapat menghancurkan kota Rembang serta perahu-perahu baru Kompeni di galangan kapal milik Daniel Dupree dalam pemberontakan Trunojoyo. Pada masa itu, galangan kapal Rembang menjadi produsen kapal untuk memenuhi kebutuhan kapal baik bagi Mataram maupun VOC. Pada tahun 1657, Amangkurat I memerintahkan Tumenggung Pati untuk membuat sebuah kapal untuk Mataram dan sebuah kapal lagi dipesan oleh Duta Makasar.

Selanjutnya, tentang perkembangan produksi serta perbaikan kapal di galangan kapal Desa dasun ini dari tahun ke tahun cukup bervariasi. Pada tahun 1832 galangan kapal ini membuat semua jenis perahu untuk pesanan orang-orang Eropa dan perahu angkut barang. (dok :http://media-kitlv.nl)

Tentang siapa dan pengelola dan pemilik galangan kapal Rembang itu, pertama-tama bisa disebut nama Daniel Dupree seorang pengusaha kayu swasta sebagaimana banyak disebut oleh H.J. de Graff. Akan tetapi tidak diperoleh data yang menjelaskan kapan Daniel Dupree ini mulai memimpin galangan kapal tersebut. Ketika galangan kapal miliknya dapat dihancurkan oleh para pemberontak dari Makasar yang mendukung Trunojoyo, galangan ini sempat dibubarkan pada tahun 1677, tetapi dibangun lagi oleh VOC pada tahun 1679 setelah pemberontakan berhasil dipadamkan. Tidak diketahui, apakah setelah galangan itu dibangun kembali dia masih dengan para penggantinya, tidak diketahui sejak kapan mereka mulai dan berakhir memiliki galangan tersebut. Pada tahun 1832 diketahui, Tuan Horning menjadi pemilik galangan dan tuan Browne menjadi pemborong. Kemudian pada tahun 1836, galangan itu dimiliki oleh tuan Perry sedangkan Browne dan Horning menjadi pemborong. Pada tahun 1849 diketahui sebagai pemilik galangan yaitu Browne en Co. sebagai perusahaan patungan. Selanjutnya pada tahun 1878 diketahui bahwa pemilik galangan itu adalah sebuah firma,yang bernama Firma Nering Bogel en Dunlop.

Galangan kapal di Rembang ini telah memberikan andil yang cukup besar bagi perkembangan perkapalan dan pelayaran baik yang berlangsung di wilayah Rembang maupun wilayah lain yang menggunakan jasa pembuatan kapal di Rembang. Pelabuhan Rembang menjadi ramai antara lain juga disebabkan oleh galangan kapal ini. Banyak kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Rembang di samping untuk berdagang juga melakukan perbaikan terhadap kapal-kapal mereka di geladak kapal Rembang. Dengan demikian galangan kapal di Rembang menjadi tempat pembuatan maupun perbaikan kapal.

Pada tanggal 3 Juli 1813, galangan kapal Rembang telah berhasil diperbaiki 20 perahu dan 14 kapal meriam yang telah dikirim kembali ke Batavia dalam kondisi yang baik. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1813 telah berhasil pula diperbaiki 30 kapal yang digunakan untuk mengangkut garam dan beras dari satu daerah ke daerah lain. Pada bulan Oktober juga telah dikirim sebuah kapal meriam oleh Residen Jepara ke galangan kapal Rembang untuk diperbaiki. Kapal tersebut setelah selesai dibawa ke Banjarmasin oleh Residen Jepara untuk menumpas pemberontak. Memang galangan kapal Rembang menjadi pusat bengkel kapal di Jawa karena pada saat itu, galangan ini merupakan galangan yang cukup besar di Hindia Belanda. Namun demikian, bagi kapal-kapal yang rusak berat, misal lantai kapal jebol sehingga air laut masuk, tidak bisa diperbaiki di Rembang, kecuali diperbaiki untuk sementara saja. Perbaikan kapal yang rusak berat menelan biaya sampai 3.000 gulden, sedangkan bagi kapal yang rusak ringan bisa mencapai 500 gulden. Kapal-kapal pemerintah yang diperbaiki di galangan kapal Rembang ini semuanya menjadi tanggungan EIC. Pada tahun 1813, pemerintah memberikan anggaran rutin untuk biaya pengelolaan galangan kpal Rembang ini sebesar 2.000 gulden per tahun.

Pembuatan kapal di galangan kapal Rembang memang mengalami kemajuan baik dalam jumlah kapal yang dibuat maupun teknik pembuatan yang semakin baik. Sebenarnya, tentang teknik, dan jaminan keamanan bagi kapal yang akan dibuat menempuh pada jarak pelayaran tertentu memang berbeda-beda. Akan tetapi, sarana dasar bagi kapal kayu yang didorong oleh angin, memiliki batasan teknik yang sama. Kapal ini tidak melebihi ukuran tertentu, jumlah kalasi, permukaan layar, dan kecepatan. Pada tahun 1813, di galangan ini telah mampu dibuat kapal layar cepat dan kapal meriam, di samping memproduksi kapal-kapal kecil. Meskipun demikian cepat tidaknya pembuatan kapal sangat bergantung pada jumlah para pekerja yang melakukan pekerjaan itu. Pada bulan September tahun 1813, dilaporkan bahwa di galangan ini telah dilakukan pekerjaan pembuatan yang terdiri dari enam buah kapal meriam berkapasitas 30 orang yang dibuat dengan cara: dasar didempul, lapisan kayu lengkap menutup papan kabin, tiang, dan geladak; sebuah kapal layar berkapasitas 20 orang; delapan kapal meriam tiang rendah lengkap dan siap dikemudikan dengan kekecualian belum dilapisi tembaga; 10 perahu berkapasitas 10 orang dengan papan pada bagian dalam; serta sebuah perahu dengan geladak dari papan pada bagian dalam.

Pemilihan Lasem sebagai galangan kapal di samping karena mudah memperoleh kayu jati juga Lasem memiliki posisi yang sangat strategis dari segi militer. Fasilitas galangan kapal yang sudah ada di Soditan (Dasun) diperluas oleh Jepang dan dijadikan sebagai prioritas utama galangan kapal di Jawa. (dok: http://media-kitlv.nl)

Pembuatan kapal di Rembang baik yang dilakukan oleh perusahaan swasta maupun oleh para penduduk pribumi di distrik pantai dapat berlangsung karena didukung oleh keberadaan hutan jati di wilayah pedalaman Rembang. Dengan demikian maju mundurnya pembuatan kapal di Rembang sangat bergantung pada eksploitasi hutan jati dan segala aspek yang mempengaruhinya. Ketika pada tahun 1820 terjadi pengurangan terhadap ganti rugi pemotongan kayu jati, maka sebagai akibatnya adalah pembuatan kapal segera mengalami kemerosotan, meskipun pembuatan kapal oleh penduduk pribumi di distrik pantai masih bisa bertahan.

Sering terjadi pula, ketika pembuatan kapal swasta sedang meningkat tajam, tetapi kondisi sulit juga muncul menyertainya. Hal ini disebabkan karena hutan jati yang kayu-kayunya dicadangkan oleh pemerintah untuk menjadi bahan baku pembuatan kapal, sering harus dikalahkan oleh pemerintahn untuk memenuhi kebutuhan kayu jati bagi pembangunan sarana dan prasarana sosial dan pemerintahan. Sementara itu, pemerintah sendiri tidak mendapatkan kayu jati karesidenan lain sebab hutan di tempat lain tidak mampu menunjang kegiatan ini. Dengan demikian penduduk sering mengalami kekurangan kayu, karena di samping tidak mau menggunakan kayu lain karena kekuatan yang kurang baik, juga karena penduduk tidak terbiasa menggunakan kayu yang melengkung yang bisa dihasilkan hutan untuk pembuatan kapal.

Di samping itu, residen juga memperhatikan eksploitasi hutan jati yang cukup tinggi. Untuk itu dibuat aturan, bahwa sebagian besar penduduk kini terlibat dalam aktivitas kehutanan dan pekerjaan yang amat berat pada saat itu karena penduduk diminta oleh pemerintah untuk bekerja dan menyerahkan hewan pemeliharaannya untuk menarik kayu-kayu itu dari hutan ke tempat penimbunan atau sungai-sungai untuk dialirkan ke muara.

Pembuatan kapal sampai tahun 1832, tetap menjadi cabang industri yang paling utama di Rembang, terutama telah memberikan kesempatan kepada pemerintah di Rembang selama empat tahun belakangan ini untuk segera membuat sejumlah besar kapal dan perahu tanpa banyak menemui kesulitan dalam bidang biaya. Namun demikian beberapa tahun menjelang tahun 1836 terjdi penurunan produksi kapal. Hal ini disebabkan karena penebangan hutan yang kayunya digunakan untuk membuat kapal harus diserahkan kepada pemerintah, sedang kapal yng telah dibuat tidak diberi harga yang cukup tinggi. Sementara itu para pemborong Browne dan Horning masih memiliki persediaan kayu dari tahun sebelumnya, sehingga bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhannya. Pada tahun 1849 dilaporkan bahwa galangan kapal milik Browne berkembang dengan pesat. Pada bulan Juli 1854, Firma Browne & Co. di Dasun telah mengadakan kontrak dengan Pangkalan Militer Ourust yang berisi pemesanan sebuah geladak dorong untuk kepentingan militer di Ourust. Geladak dorong ini harus sudah selesai dikerjakan oleh galangan kapal Browne & Co. pada akhir bulan Mei 1856.

Namun demikian kesulitan untuk mendapatkan kayu kembali menjadi penghambat kemajuan galangan ini pada tahun 1864,. Bahkan ketika Firma Nering, Bogel dan Dunlop dapat tetap membangun geladak kapal dan kapal-kapal lain karena dapat mendatangkan kayu-kayu dari lain tempat meskipun dengan harga yang sangat mahal. Rupanya Pemerintah Pusat tetap beranggapan bahwa pembangunan geladak dorong bagi pangkalan di Onrust sangat penting dan perlu disukseskan. Untuk itu, Direktur Perkebunan di Batavia akhirnya dapat menyetujui permohonan perusahaan Firma Nering, Bogel, en Dunlop untuk melakukan penebangan kayu jati, tetapi hanya diijinkan menebang sebanyak 400 balok kayu jati di hutan pemerintah di distrik Sedan dan Pamotan.

Pada masa Mataram, kapal yang dibuat di galangan ini digunakan untuk kepentingan perdagangan baik oleh pihak VOC atau para bupati, maupun pihak swasta. Galangan kapal Rembang ini berlokasi di muara Sungai Lasem atau tepatnya di Desa Dasun. (dok: http://media-kitlv.nl)

Dengan terbatasnya kayu jati ini telah menyebabkan galangan kapal di Dasun tidak membuat kapal untuk kepentingan swasta pada thun 1858, kecuali untuk kepentingan pemerintah dan mengadakan perbaikan atau pembaharuan kapal untuk kepentingan militer laut. Meskipun produksi kapal mengalami penurunan, tetapi di galangan ini telah mencapai suatu kemajuan dalam teknik pembuatan kapal. Sebagai bukti kemajuan ini bisa ditunjukkan pada tahun 1854 telah berhasil dibuat beberapa kapal uap bersilender dengan kekuatan sebesar 30 tenaga kuda. Bahkan proyek ini telah menghasilkan kapal tempur yang ditujukan untuk kepentingan daerah Banjarmasin, yang menurut catatan insinyur kepala pada proyek pembuatan kapal itu, dibuat selama 8 bulan di galangan kapal Browne en Co. di Dasun, dimatangkan lagi selama lima bulan di Surabaya. Beberapa bukti pelayaran menurut laporan ini, semua sesuai dengan harapan.

Di samping masalah kesulitan mendapatkan kayu jati, bertambahnya kapal uap dalam pelayaran di Hindia Belanda juga berpengaruh terhadap perkembangan galangan kapal di Rembang ini. Pada tahun 1880 kemerosotan ini sangat dirasakan. Akibat situasi ini, galangan kapal Rembang pada tahun 1883 hanya memberikan sedikit kemajuan sehingga suatu tinjauan tentang aktivitasnya tidak banyak diberikan. Pada tahun 1885 galangan ini tidak banyak mengalami perkembangan dan pada tahun 1889 pembuatan kapal besar tidak ditekuni lagi, karena kekurangan modal kerja dan pekerjaan.

Selanjutnya, tentang perkembangan produksi serta perbaikan kapal di galangan kapal Desa dasun ini dari tahun ke tahun cukup bervariasi. Pada tahun 1832 galangan kapal ini membuat semua jenis perahu untuk pesanan orang-orang Eropa dan perahu angkut barang. Pada tahun itu dilaporkan telah dibuat empat buah kapal. Empat buah kapal pemerintah telah diselesaikan lagi pada tahun 1834, sementara pembuatan kapal bagi kepentingan swasta, meskipun terus berjalan, tetapi semakin sulit karena mahalnya harga kayu jati yang terjadi pada tahun 1829. Akan tetapi para pemborong masih banyak memiliki persediaan yang cukup besar dari kayu sebelumnya, sehingga mereka masih bisa membuat perahu. Beberapa perahu dan kapal “Maria Freberica” dibuat. Di samping itu, empat kapal sipil pemerintah telah dibuat dan diselesaikan pada bulan November 1835. Kapal tersebut kemudian dikirim ke Surabaya. Kemudian pada tahun 1836 diselesaikan tujuh perahu yang terdiri dari lima buah kapal layar, sebuah kapal cepat, dan satu “kotler”. Selanjutnya pada tahun 1839 berhasil diselesaikan dua buah kapal layar “tiang dua” dan sebuah kapal layar cepat. Sementara pada tahun 1840 telah dibuat satu kapal uap, tiga kapal layar “tiang tiga”, tiga kapal layar cepat, tiga perahu angkut, satu perahu pancalang. Pada tahun 1852 telah diselesaikan enam kapal pesanan pemerintah yang difungsikan sebagai kapal pengawas. Empat tahun setelah itu, telah dihasilkan delapan kapal.

pengawas, dua kapal “sloep”, dua kapal angkut, dua “loods boot”. Pada tahun 1857 telah diselesaikan pembuatan dua kapal tempur yang dilapisi dengan tembaga dan sebuah kapal layar cepat atas biaya swasta. Kecuali itu berbagai perahu mengalami banyak perbaikan di galangan Dasun ini. Kemudian pada tahun 1858, di samping mengadakan perbaikan dan pembaharuan geladak dorong untuk pangkalan militer di Onrust, telah diselesaikan pula tiga kapal pengawas, tujuh kapal dayung, lima kapal angkut, sebuah kapal cepat dan dua perahu mayang. Selanjutnya pada tahun 1865 telah dihasilkan enam buah kapal cepat. Kemerosotan terjadi sejak tahun 1870, karena terjadinya penutupan hutan jati di beberapa distrik, sehingga harga kayu jati mengalami peningkatan tajam. Pada tahun 1880 diperoleh informasi bahwa galangan kapal Dasun hanya memproduksi sebuah perahu dan dua kapal sungai, suatu produk yang tidak berarti bagi pabrik kapal yang relatif besar dan tersohor itu. Tampaknya pada tahun 1886 galangan kapal kapal ini tidak memperoleh pekerjaan pembuatan kapal baik dari pemerintah maupun swasta, sehingga hanya membuat dan memperbaiki perahu-perahu kecil saja. Untuk lebih jelasnya, produksi kapal dari galangan kapal di Dasun ini dapat dilihat pada tabel berikut :

Perkembangan Produksi Kapal dan Galangan Kapaldi Dasun Rembang pada tahun 1832-1880

 

Tahun

Jumlah Kapal

1832

4

1834

4

1835

5

1836

7

1839

4

1840

11

1852

6

1856

14

1857

3

1858

18

1865

6

1880

3

Sumber : Diolah dari AVRR dan K.V. dari berbagai tahun

Tentang lama waktu pembuatan sebuah kapal memang tidak bisa disamakan, meskipun untuk jenis kapal yang sama baik dalam bentuk maupun bobot kapal. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari mudah tidaknya tenaga kerja yang mengerjakan pembuatan kapal. Sedangkan jumlah produksi di samping dipengaruhi oleh maju tidaknya perdagangan dan pelayaran yang berlangsung khususnya untuk komoditas utama dan kayu jati, yang menggunakan kapal hasil produksi galangan kapal ini. Dan tabel perkembangan produksi kapal diketahui bahwa galangan kapal di Dasun Rembang ini mencapai puncak hasil produksi antara tahun 1856-1858 yang mampu menghasilkan 35 buah kapal dalam waktu tiga tahun, dan setelah itu mengalami kemerosotan.

Bagaimanapun juga, eksistensi galangan kapal di Dasun Rembang ini telah memberikan andil yang cukup besar baik dalam bidang pelayaran dan perdagangan laut di Hindia Belanda umumnya dan di wilayah Rembang khususnya, maupun dalam memenuhi sarana hidup penduduk di wilayah Rembang, terutama dalam bidang perekrutan tenaga kerja. Bahkan di bidang armada militer laut pemerintah. Pada tahun 1863 misalnya, 18 kapal di antaranya dibuat di galangan kapal Dasun Rembang.

Sementara di bidang ketenagakerjaan, galangan ini cukup banyak memperkerjakan penduduk sebagai tukang dan kuli dari wilayah Rembang. Memang, tradisi membuat kapal bagi masyarakat Rembang telah berlangsung sangat lama. Para tukang yang ahli dalam bidang ini jarang dijumpai di karesidenan selain Rembang. Kerajinan yang dimiliki oleh para tukang pembuat kapal ini sangat berkaitan dengan kondisi geografis wilayah Rembang, yaitu sebagai wilayah yang mempunyai garis pantai yang relatif panjang dan adanya hutan jati yang sangat luas di daerah pedalaman.

Pada tahun 1854, tenaga kerja di galangan kapal Dasun ini berjumlah antara 200 sampai 400 orang. Dari jumlah itu tidak diperoleh informasi berapa orang yang menjadi tukang, kuli, dan tenaga ahli. Secara khusus jumlah tenaga kerja yang bekerja sebagai tukang dan kuli dilaporkan pada tahun 1863, bahwa Firma Nering, Bogel dan Dunlop setiap hari memperkerjakan sebanyak 150 orang tukang dan kuli. Dari berbagai galangan kapal yang ada di Hindia Belanda, maka galangan kapal di Dasun Rembang ini bisa dianggap yang paling utama, paling tidak sampai tahun 1865. Pada saat itu dilaporkan bahwa jumlah buruhnya (tukang dan kuli) berjumlah 150 sampi 200 orang.

Pada tahun 1813, pemerintah memberikan anggaran rutin untuk biaya pengelolaan galangan kpal Rembang ini sebesar 2.000 gulden per tahun. (dok: http://media-kitlv.nl)

Meskipun jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang dilaporkan pada tahun 1854, tetapi perusahaan ini masih tetap eksis sebagai galangan yang dipercaya oleh pemerintah untuk mengerjakan pembuatan kapal milik pemerintah. Jumlah tenaga kerja mengalami kemerosotan tajam antara 66,7% sampai 75% dari jumlah tenaga kerja tahun 1865, terjadi pada tahun 1884, yaitu hnya berjumlah 50 orang.

Sementara itu, tentang besarnya upah bagi tenaga kerja sampai tahun 1878 tidak diketahui dengan pasti, kecuali hanya diinformasikan bahwa upah tenaga kerja di galangan kapl Dasun relatif rendah. Keadaan ini berlangsung terus sampai tahun 1886. Pada tahun 1888 diperoleh informasi tentang upah para pekerja di galangan kapal Dasun, yaitu: upah tukang sebesar f. 0,35 sampai 1,25 per hari, sedangakan upah kuli sebesar f. 20 sampai 35 sen per hari. Satu tahun kemudian, upah kuli mengalami penurunan menjadi f. 15 sampai 20 sen per hari.

Merosotnya upah dan jumlah tenaga kerja di galangan ini memang sudah dirasakan sejak tahun 1869 hingga akhir abad ke-19. Pada saat seperti ini memang pembuatan kapal di galngan kapal dasun Rembang hanya memberikan kehidupan yang baik pada sedikit pegawainya karena terus menerus mengalami kemerosotan.

Pada waktu permulaan pendudukan Jepang, Lasem juga dijadikan sebagai salah satu tempat dari enam tempat pembuatan kapal di pantai utara pulau Jawa (yaitu Pasar Ikan Jakarta, Cirebon, Tegal, Pekalongan, dan Juana). Pemilihan Lasem sebagai galangan kapal di samping karena mudah memperoleh kayu jati juga Lasem memiliki posisi yang sangat strategis dari segi militer. Fasilitas galangan kapal yang sudah ada di Soditan (Dasun) diperluas oleh Jepang dan dijadikan sebagai prioritas utama galangan kapal di Jawa. Pemerintah pendudukan Jepang pada waktu itu sangat membutuhkan alat transportasi laut untuk mengangkut bahan pangan dan obat-obatan yang dibutuhkan tentara mereka yang sedang menghadapi sekutu di Papua dan Morotai. Jepang sendiri sedang menghadapi kesulitan untuk mendatangkan kapal dari Jepang sebab menghadapi blokade sekutu. Program pembuatan kapal di Lasem ini melibatkan 44.000 orang buruh Indonesia dan 215 orang teknisi Jepang. Pada tahun 1942, galangan kapal Dasun ini menghasilkan 150 kapal yang kebanyakan diberi tenaga mesin diesel dan pada tahun 1943 menghasilkan 127 kapal. Pada tahun 1944 direncanakan akan membangun 700 kapal namun hanya berhasil memproduksi 343 buah. Untuk pembuatan dan perluasan pabrik ini, pemerintah pendudukan Jepang di Lasem melakukan relokasi terhadap tiga kampung di Dasun. Ratusan hektar kawasan di Dasun digunakan untuk gudang kayu jati dan kompleks pembuatan kapal kayu.

Dunia buruh galangan kapal Lasem tidak bisa dipisahkan dari kegiatan PKI bawah tanah pada masa pendudukan Jepang. Pada waktu itu buruh-buruh galangan kapal tidak dibuatkan barak-barak khusus, tetapi ditempatkan di rumah-rumah penduduk dari tiga kampung di sekitar Soditan. Salah seorang penduduk kampung ini adalah mertua seorang kurir PKI-ilegal yang bernama Pak Wir, bekas sekretaris Sarekat Islam cabang Lasem. Pak Wir bergabung pada gerakan bawah tanah pada permulaan pendudukan Jepang. Pak Wir mendapat tugas di bidang pembangunan kader, menyebarkan bahan propaganda anti-fasis di kalangan buruh galangan kapal dan mengorganisasi suatu aksi kaum buruh bilamana kesempatan itu muncul. Pak Wir dapat berada di kalangan kaum buruh galangan karena dia dapat membaur di antara kaum buruh di situ. Atas inisiatifnya dapat diadakan aksi “perlambatan kerja” dan melubangi dinding-dinding kapal yang sudah jadi, dengan perhitungan kapal-kapal itu akan tenggelam di tengah laut ketika ditarik ke Surabaya untuk dipasang mesinnya. Pekerjaan yang mestinya dapat dilaksanakan dalam waktu satu minggu, dikerjakan dalam waktu satu bulan.

Sumber: http://rembang.dosen.unimus.ac.id/?page_id=1141

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan