Sejengkal Tanah Lasem adalah Ilmu Pengetahuan

Lasem kui negeri panjang apunjung. Gemah ripah loh jinawe, karto tur raharjo dadi dasar nagari. Hangiringaken pasabinan. Hanengenaken pategilan. Hangungkuraken wana bebanjengan. Sarta hangajengaken Bandhar Ageng.

Kota kecil di pesisir utara pantai jawa ini, tak banyak yang tahu. Lasem namanya. Ia seolah-olah tak terbaca, seolah-olah menyembunyikan dirinya. Namun kami, orang-orang yang lahir yang makan minum dari gersang tanah dan mata airnya, yang tumbuh dan dibesarkan lewat kering angin lautnya, tak pernah takut untuk mengatakan, kami wong Lasem.

Dari arah barat selepas melewati kabupaten Rembang, selepas melewati jalan kiringan yang menikung tajam, akan nampak disepanjang pelupuk mata hamparan tambak-tambak garam, pantai landai, barisan pegunungan seolah tubuh naga yang tertidur, kampung-kampung tua tionghoa yang hampir rubuh, para santri yang berarak ke masjid, dan orang-orang kampung yang keringatnya menetes-netes tengah berdiri dan sibuk dalam pelik hidup di sepanjang jalan pantura, pasar-pasar, terminal dan warung-warung kopi. Di sanalah kampung asal kelahiran kami, Lasem.

Namun, kami benar-benar paham, kota kecil kami memang gemar menyembunyikan diri. Ia gemar pada yang sunyi dan memilih orang-orang yang benar-benar dapat memahaminya. Sekalipun, sampai saat ini, tak pernah ada yang benar-benar dapat memahami Lasem. Tak banyak yang tahu, di tanah ini berabad-abad lampau, melalui data arkeologi yang ada telah menjadi daerah istimewa dari kerajaan besar seperti Majapahit, Demak, Pajang, sampai Mataram.

Pada masa Hindu Budha ketika Majapahit berjaya misalnya, di gunung-gunungnya konon pernah menjadi kawasan suci dimana para pandita hindu budha digembleng memahami dharma. Tak ada yang boleh diangkat menjadi pejabat Majapahit sebelum bersuci di Mata Air Kajar Tirta Amarta dan tepekur dalam samadi di goa Tinatah. Sementara bandhar-bandhar lautnya yang besar, sepanjang mata menangkap pemandangan akan nampak bersandar kapal-kapal pedagang manca negara dan kapal-kapal perang yang dipimpin para Dhampuhawang berlaskar para Pathol-pathol Majapahit.

Pada masa wali dan penyebaran Islam, lepas Demak Bintara menegakkan kalimat syahadah di bumi jawa, seorang wali besar telah membuat pesantren tua dimana para santri-santri dan wali sejawa menggembleng diri dalam khusuk dzikir, suluk-suluk dan tembang mocopatan. Sunan Bonang, salah seorang Wali Utama dalam Wali Sanga telah menata pondasi pesantren sekaligus menata pondasi syariat Islam bagi rakyat. Di sinilah, salah satu titik penyebaran islam terpenting. Di mana ia mengajari rakyat bersholawat dalam gending jawa, mengenalkan istrumen bonang, dan mengarang suluk-suluk ma’rifat semacam Suluk Dewa Ruci. Maka tak heran jika kemudian salah seorang trah Panji Lasem berbaiat dan mengabdi menjadi Wali yang kelak di kenal dengan sebutan Sunan Kalijaga, yang sunan yang gemar lelana sampai ke pelosok nusantara demi menegakkan panji-panji Islam yang suci.

Di tengah kota, melewati gang-gang kecil yang sembunyi berjajar rumah-rumah tua cina dan klenteng-klenteng yang konon tertua di jawa. Maka tak heran telah sejak lama, Lasem dikenal dengan sebutan “Le Petit Chinois” atau Kota Tiongkok Kecil bersandingan dengan rumah-rumah limasan, joglo, rumah-rumah gedhek masyarakat pribumi sampai pondok-pondok pesantren tua.

Dalam dunia pesantren, siapa yang tak kenal simbah kyai Shambua Smarakhandi atau Mbah Sambu. Konon, beliau adalah salah satu trah pancer ulama-ulama se-Nusantara. Maka tak mengherankan jika kota kecil kami berdiri puluhan pesantren tua yang konon ulama-ulama khosnya menjadi salah satu pelopor dan pendiri Nahdlatul Ulama. Maka tak perlu heran jika saban subuh kembali ke subuh, saban sore kembali ke sore akan terdengar santri-santri belajar imriti, nahwu shorof dan kitab-kitab kuning. Sementara di udara dengung budrah dan barzanji menjadi kidung tiap hari.

Memahami Lasem adalah memahami keragaman. Memahami Lasem adalah memahami masyarakatnya yang multikultur, tak hanya sekarang, bahkan telah sejak beraba-abad lampau lamanya. Maka kami mahfum, ketika mendengar dongeng sesepuh tentang perang kuning di mana kaum pribumi jawa, para santri dan babah-babah china bersatu dan mati bersama disepanjang jalan, rawa-rawa, pantai dan tanah-tanah lapang demi membela tanah pusaka pada tahun 1740-1751 masehi.

Memahami Lasem adalah memahami keragamam. Layaknya Indonesia yang multikultur. Multikultur adalah hal yang biasa di negara ini. Namun, memahami nilai yang diwariskan dari hidup multikultur di Lasem berabad-abad lampau sampai sekarang adalah perkara lain. Memahami nilai dari apa itu Toleransi. Dan melalui Festival Lasem inilah kami mencoba memahami benar ungkapan “di sini, di Lasem ini, sejengkal tanahnya adalah Ilmu Pengetahuan”. Melalui Festival Lasem inilah kami memahami apa itu keragaman, dan merayakannya dengan cara yang terlampau sederhana.

Panitia Festival Lasem 2017

Poster / Baliho Lasem Festival 2017
Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan