Melestarikan Pusaka Dasun

Peran Dasun sebagai wilayah yang memproduksi kapal-kapal berlanjut di zaman Kesultanan Demak hingga Hindia Belanda. Hal itu bisa dilihat dari bukti peninggalan-peninggalan seperti galangan kapal, umpak rumah petugas keamanan lalu lintas kapal yang masuk Sungai Dasun serta beberapa kapal yang masih terpendam di sepanjang Sungai Dasun-Lasem. (Dasun Heritage Society)

dasun.desa.id-Untuk mengenalkan pusaka-pusaka desa kepada warganya, pemerintah Desa Dasun bersama beberapa komunitas menyelenggarakan Malam Pusaka Dasun di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang pada Sabtu, 1 Oktober silam. Dalam acara budaya tersebut, pusaka-pusaka milik Desa Dasun dipamerkan kepada masyarakat.

Malam Pusaka Dasun didahului dengan pemutaran film Selaput dari Amuba TV sekaligus temu sapa dengan para pemain film. Setelah pemutaran film selesai, Malam Pusaka dibuka dengan lagu Indonesia Raya. Berbagai pementasan seni seperti pembacaan puisi tentang kelestarian alam, pagelaran pencak silat dan pementasan pantomim yang berjudul Dasun Lestari dari Lasem Creative Heritage Society juga ikut meramaikan acara.

Dalam acara tersebut, hadirin juga diajak berdiskusi santai seputar sejarah Desa Dasun dan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di sana. Dari diskusi, terungkap bahwa sejak zaman Majapahit, Desa Dasun ternyata telah menjadi salah satu pusat galangan kapal. Peran Dasun sebagai wilayah yang memproduksi kapal-kapal berlanjut di zaman Kesultanan Demak hingga Hindia Belanda. Hal itu bisa dilihat dari bukti peninggalan-peninggalan seperti galangan kapal, umpak rumah petugas keamanan lalu lintas kapal yang masuk Sungai Dasun serta beberapa kapal yang masih terpendam di sepanjang Sungai Dasun-Lasem.

Peran Dasun sebagai wilayah yang memproduksi kapal-kapal berlanjut di zaman Kesultanan Demak hingga Hindia Belanda

Malam itu, panitia penyelenggara menghidangkan tujuh nasi tumpeng untuk disantap oleh seluruh hadirin. Menurut penuturan Kepala Desa Dasun, Sujarwo, tujuh (pithu dalam bahasa jawa) tumpeng memiliki makna pitulungan atau pertolongan buat Dasun yang kebetulan bertepatan dengan malam tahun baru hijriah.

Pada kesempatan yang sama, Sujarwo juga mengukuhkan berdirinya Dasun Heritage Society, komunitas lokal yang baru beberapa minggu terbentuk.

Malam Pusaka merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan rasa kepemilikan warga terhadap pusaka-pusaka di desa mereka. Harapannya, setelah mengenal pusaka-pusaka desa, masyarakat akan semakin peduli dalam melestarikan peninggalan bersejarah tersebut.

Malam Pusaka sebenarnya telah diinisiasi sejak 2013 oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem. Desa-desa yang telah menyelenggarakan malam pusaka antara lain: Sriombo, Dasun, Tasiksono, Ngemplak, dan Gedongmulyo.

Komunitas yang terlibat dalam penyelenggaraan Malam Pusaka Dasun antara lain; Komunitas Rumah Baca Pamotan, Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem, Lasem Creative Heritage Society, Amuba TV, Ansor Lasem, Karangtaruna Ira Adhimukti-Ngemplak, Dasun Heritage Society dan lain-lain.

sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/10/melestarikan-dasun

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan